Saturday, December 26, 2015

Artikel Potensi Desa Budaya di JEC






Melestarikan Budaya Melalui Pagelaran Potensi Desa Budaya Yang Kretif Dan Mandiri


Provinsi DIY pada 11 November 2015 mengadakan pameran bertajuk peningkatan potensi desa budaya menuju desa budaya yang kreatif dan mandiri. Acara itu resmi dibuka pada hari Rabu 11 November 2015  tepat  pukul 9.00 WIB ditandai bunyi kentongan yang dibunyikan oleh Pak Umar selaku Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY dan berlanjut dengan mengelilingi  stand yang ada bersama tamu undangan, juga diawali dengan Pentas Tarian Kidung Bumi Pertiwi yang dibawakan oleh siswa siswi serta seniman Yogyakarta.
Pameran ini dilakukan paling tidak satu kali dalam dua tahun, setelah pembinaan oleh Disbud. Karena pagelaran merupakan cara untuk melakukan komunikasi antara pencipta karya dan penikmat karya. Acara tersebut bernama “Gelar Potensi Budaya Yogyakarta 2015” yang diselenggarakan di Parkiran Barat Jogja Expo Center (JEC). Kegiatan ini diikuti oleh 43 Desa Budaya se-DIY yang berisi produk kerajinan, kuliner serta potensi budaya lainnya. Selain ada 43 stand desa budaya, acara ini juga menyuguhkan penampilan kesenian tradisional dari 43 desa budaya tersebut. Masing-masing desa menampilkan sesuatu yang original dalam artian benar-benar asli dari desa tersebut tidak boleh mengadopsi tempat lainnya. Harapannya, desa bisa menggali dan mengoptimalkan potensi budayanya. Target pengunjung yaitu wisatawan lokal dan mancanegara yang sedang berlibur,penduduk setempat maupun pelajar. Citra Rani Angga Riswari mengatakan Dengan adanya pagelaran desa budaya ini diharapkan seluruh desa mampu mengoptimalkan potensi budaya yang ada agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.
Gelar Potensi Desa Budaya bertujuan memberikan ruang ekspresi untuk berapresiasi kepada desa Budaya untuk dapat menampilkan potensi- potensi unggulan yang ada di desa budaya dan sebagai sarana mengenalkan potensi unggulan yang ada di Desa Budaya agar dikenal oleh masyarakat luas. Dari kegiatan tersebut akan menumbuhkan semangat kebersamaan meningkatkan rasa kekeluargaan dan kerukunan antar sesama serta meningkatkan khualitas kesenian masing-masing peserta selain itu masyarakat bebas berpendapat untuk menyalurkan bakat kreatifitasnya.
“Dengan diadakannya pagelaran budaya memperoleh Pendidikan Budaya Karakter Bangsa (PBKB)” ujar Bapak Suntoyo
Pagelaran potensi desa budaya untuk melestarikan budaya yang kreatif dan mandiri terutama pada kaum muda yang semakin lama tidak mengaenal budayanya sendiri karena pudarnya kesadaran diri dan pengaruh budaya barat atau moderinisasai.
“Desa Budaya merupakan benteng pelestarian budaya yang ada di DIY, keberadaan Desa Budaya dipandang strategis bagi upaya pelestarian, pembinaan dan pengembangan budaya. Pemerintah berusaha yang memfasilitasi” Ujar Bapak Umar selaku warga setempat.
Penulis sangat setuju dengan progam yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tingkat Provinsi melalui Pagelaran potensi desa budaya yang kreatif dan mandiri. Jika potensi budaya disebut seni tradisional dilestarikan, dan di uri-uri maka akan mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik maupun luar untuk berkunjung ke desa budaya. Karena budaya adalah suatu warisan dari leluhur atau nenek moyang yang tidak ternilai harganya.
Peran Pemerintah sebagai pengayom dan pelindung dan bukan sebaliknya justru menghancurkannya yang berorientasi pada dana dana proyek atau dana untuk pembangunan dalam bidang ekonomi saja. Dan tugas utama yang harus dibenahi adalah bagaimana mempertahankan,melestarikan, menjaga serta mewarisi budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan mengharumkan nama Indonesia. Dan juga supaya budaya asli negara kita tidak diklaim oleh negara lain,sehingga dengan pementasan maka cepat atau lambat, budaya tradisional kembali bergairah.
Acara gelar potensi budaya dilanjutkan dengan pentas-pentas dari berbagai Desa Budaya. Masing-masing desa akan diberikan kesempatan menampilkan kesenian selama 40 menit dalam panggung utama yang disiapkan. Penampilan pertama dimulai dari Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul dengan menampilkan pertunjukan wayang kulit yang diiringi  dengan tarian dan nyanyian. Tampil dalam acara Pagelaran Potensi desa merupakan kebanggan tersendiri. Tidak mudah untuk dapat menampilkan potensi desanya. Karena acara tersebut dilaksanakan melalui beberapa tahap yaitu sebelum yang diadakannya di JEC sudah dilaksanakan seleksi di beberapa daerah. Pada performance ke 7 dibawakan oleh Kabupaten Sleman, Desa Widomartani. Sleman masuk dalam rangking besar 4 Kabupaten di Yogyakarta dan salah satu dari 43 desa di Yogyakarta.
“Suatu kebanggan tersendiri dari sekian banyak desa di setiap Kabupaten di Yogyakarta desa kami salah satu dari 86 Desa di Kabupaten Sleman, dan salah satu dari 43 Desa Budaya di Yogyakarta diberi kesempatan menampilkan kreatifitas Kami” ujar Bapak Sunoto Dijo Suntoyo selaku pengurus dari Desa Sidoarjo.
  Desa Sidoarjo mementaskan kisah tentang Kethek Ogleng dalam urutan performance ke 7. Cerita Kethek Ogleng yang dibawakan oleh Desa Sidoarjo Yogyakarta diiringi alat musik angklung,tarian,nyanyian dan teater. Kethek Ogleng merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang masih berkembang dengan bentuk beragam.kisah.
“Kethek Ogleng diambil dari nama binatang yaitu kera dalam bahasa jawa “Kethek”, sedangkan Ogleng diambil dari gamelan yang berbunyi “gleng-gleng” engan Sekartaji atau Candra Kirana.  “Bapak Sunoto Dijo Suntoyo yang saya wawancari pada hari Rabu 11 November.

 Tari Kethek Ogleng memiliki alur cerita secara utuh terdiri dari 6 tokoh yaitu Panji Asmoro bangunan,Sekartaji, Endang lara tompe, Punakawan, Bantara Narada dan Wanareseta. Cerita Panji dalam versi Raden Panji yang akan dijodohkan ini menceritakan seekor kera jelmaan Raden Gunung Sari dalam cerita panji dalam upaya mencari Dewi Sekartaji yang menghilang dari istana. Untuk mengelabuhi penduduk agar bebas keluar masuk desa dan hutan, maka gunung sari menjelma menjadi seekor kera putih yang lincah dan lucu.  Ketika di hutan mereka berdua dipertemukan dalam kembali, Endang Rara Tompe merubah wujud bentuknya menjadi dewi Sekartaji, begitu juga kethek mengubah dirinya menjadi Raden Panji Asmorobangun. Dai setiap pementasan mengandung unsur amanat tersendiri. Dari segi pementasan juri menilai kreatifitas,tema penampilan dan tradisi yang diusung. Dari cerita tersebut kita dapat mengetahui watak para tokoh pemeran cerita dan mengambil pelajaran sisi positif untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
            Selain menampilkan performance, Desa Budaya juga menampilkan berbagai macam produk kerajinan, kuliner yang ada disediakan setiap stand. Penulis mencoba untuk meneliti salah satu stand kerajinan anyaman bambu dan kuliner keripik yang ada di stand, dari Desa Dlingo Bantul. Profil desa Dlingo giriloji (gemah ripah loh jinawi)
“Seluruh desa diberi modal Rp 20.000.000,00 untuk membangun stand dan mengolah produknya, selain dilombakan juga dijual kepada para pengunjung dan keuntungan untuk tiap desa,” ungkap Ibu Sati

Dari wawancara dari Ibu Sati didapatkan informasi berikut : Keberagaman potensi seni dan budaya di Desa Budaya Dlingo merupakan pondasi diberikan status Desa Budaya didesa tersebut diwariskan secara turun temurun. Potensi seni budaya desa Dlingo masih dapat dijumpai keberadaannya saat ini. Potensi upacara adat dan tradisi, bangunan adat, cagar alam budaya, kesenian kerajinan dan kuliner tradisional. Di stand ini beliau menjual satu buah kuda lumping dijual dari mulai Rp 10.000,00- Rp 100.000,00 dan berbagai kulinertradisional tersebar diwilayah Desa Dlingo dengan hasil olahan pangan tradisional meliputi jamu tradisional, dawet, pecel, tempel,kripik dll. Adapun kripik yang dijajakan mulai harga Rp3500,00-Rp 5000,00. Kreatifitas itu merupakan hasil buatan sendiri.
Dari pagelaran pementasan kuliner, atraksi dan kerajinan dinilai oleh 6 juri yang berasal dari kalangan praktisi,birokrasi ,dan akademisi. Aspek utama yang dinilai adalah bagaimana desa tersebut akan mengeksplorasi kekayaan yang dimiliki. Dari segi kerajinan, aspek yang akan dinilai antara lain kreatifitas, keunikan, bahan baku dan nilai jual. Seluruh penilaian atas kuliner,atraksi dan kerajinan akan digabung untuk menentukan desa pemenang yang akan diumumkan pada malam penutupan acara yang baru pertama kali digelar ini. Bukan hanya nilai jual, tapi juga bagaimana desa itu bisa mengharmonikan ragam kekayaan desanya.
Dari 43 Desa Budaya akan diperoleh beberapa pemenang. Bukan hanya nomina yang didapatkan cukup banyak tapi juga penghargaan yang diperoleh cukup mengesankan untuk meharumkan nama desanya tersebut.
Penulis melakukan pendekatan yang digunakan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan wawancara. Tulisan ini sejalan dari instropeksi yang peneliti lakukan setelah melakukan wawancara dari berbagai narasumber. Dari hasil survei pada acara tersebut setiap pertunjukan yang ditampilkan dan acara yang dilaksanakan sangat mengesankan karena setiap yang dibawakan memberikan konsep tersendiri dan ke khassan daerahnya tersebut baik itu  dalam pertunjukan panggung tapi juga melombakan karya tiap-tiap desa meliputi kuliner, atraksi dan kerajinan di stand stand yang disediakan. Tanpa kerjasama dan kekompakan tidak akan berhasil.
Dengan pagelaran potensi desa budaya maka masyarakat luas khususnya para generasi muda dapat mengenal dan melestarikan budayanya. Disatu sisi anak bangsa dapat memperoleh Pendidikan Budaya Karakter Bangsa (PBKB)” dan juga dapat mengundang daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik maupun luar untuk berkunjung ke desa budaya tersebut. 
Posting By : Nurul Fitriyani

No comments:

Post a Comment