Melestarikan Budaya Melalui Pagelaran
Potensi Desa Budaya Yang Kretif Dan Mandiri
Provinsi DIY pada 11 November
2015 mengadakan pameran bertajuk peningkatan potensi desa budaya menuju desa
budaya yang kreatif dan mandiri. Acara itu resmi dibuka pada hari Rabu 11
November 2015 tepat pukul 9.00 WIB ditandai bunyi kentongan yang
dibunyikan oleh Pak Umar selaku Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY dan
berlanjut dengan mengelilingi stand yang
ada bersama tamu undangan, juga diawali dengan Pentas Tarian Kidung Bumi
Pertiwi yang dibawakan oleh siswa siswi serta seniman Yogyakarta.
Pameran ini dilakukan
paling tidak satu kali dalam dua tahun, setelah pembinaan oleh Disbud. Karena pagelaran
merupakan cara untuk melakukan komunikasi antara pencipta karya dan penikmat
karya. Acara tersebut bernama “Gelar Potensi Budaya Yogyakarta 2015” yang
diselenggarakan di Parkiran Barat Jogja Expo Center (JEC). Kegiatan ini diikuti
oleh 43 Desa Budaya se-DIY yang berisi produk kerajinan, kuliner serta potensi
budaya lainnya. Selain ada 43 stand desa budaya, acara ini juga menyuguhkan
penampilan kesenian tradisional dari 43 desa budaya tersebut. Masing-masing
desa menampilkan sesuatu yang original dalam artian benar-benar asli dari desa
tersebut tidak boleh mengadopsi tempat lainnya. Harapannya, desa bisa menggali
dan mengoptimalkan potensi budayanya. Target pengunjung yaitu wisatawan lokal
dan mancanegara yang sedang berlibur,penduduk setempat maupun pelajar. Citra
Rani Angga Riswari mengatakan Dengan adanya pagelaran desa budaya ini
diharapkan seluruh desa mampu mengoptimalkan potensi budaya yang ada agar lebih
dikenal oleh masyarakat luas.
Gelar
Potensi Desa Budaya bertujuan memberikan ruang ekspresi untuk berapresiasi
kepada desa Budaya untuk dapat menampilkan potensi- potensi unggulan yang ada
di desa budaya dan sebagai sarana mengenalkan potensi unggulan yang ada di Desa
Budaya agar dikenal oleh masyarakat luas. Dari kegiatan tersebut akan
menumbuhkan semangat kebersamaan meningkatkan rasa kekeluargaan dan kerukunan antar
sesama serta meningkatkan khualitas kesenian masing-masing peserta selain itu
masyarakat bebas berpendapat untuk menyalurkan bakat kreatifitasnya.
“Dengan diadakannya
pagelaran budaya memperoleh Pendidikan Budaya Karakter Bangsa (PBKB)” ujar
Bapak Suntoyo
Pagelaran
potensi desa budaya untuk melestarikan budaya yang kreatif dan mandiri terutama
pada kaum muda yang semakin lama tidak mengaenal budayanya sendiri karena
pudarnya kesadaran diri dan pengaruh budaya barat atau moderinisasai.
“Desa Budaya merupakan
benteng pelestarian budaya yang ada di DIY, keberadaan Desa Budaya dipandang
strategis bagi upaya pelestarian, pembinaan dan pengembangan budaya. Pemerintah
berusaha yang memfasilitasi” Ujar Bapak Umar selaku warga setempat.
Penulis
sangat setuju dengan progam yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
tingkat Provinsi melalui Pagelaran potensi desa budaya yang kreatif dan
mandiri. Jika potensi budaya disebut seni tradisional dilestarikan, dan di
uri-uri maka akan mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik
maupun luar untuk berkunjung ke desa budaya. Karena budaya adalah suatu warisan
dari leluhur atau nenek moyang yang tidak ternilai harganya.
Peran
Pemerintah sebagai pengayom dan pelindung dan bukan sebaliknya justru
menghancurkannya yang berorientasi pada dana dana proyek atau dana untuk
pembangunan dalam bidang ekonomi saja. Dan tugas utama yang harus dibenahi adalah
bagaimana mempertahankan,melestarikan, menjaga serta mewarisi budaya lokal
dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan
mengharumkan nama Indonesia. Dan juga supaya budaya asli negara kita tidak
diklaim oleh negara lain,sehingga dengan pementasan maka cepat atau lambat,
budaya tradisional kembali bergairah.
Acara
gelar potensi budaya dilanjutkan dengan pentas-pentas dari berbagai Desa
Budaya. Masing-masing desa akan diberikan kesempatan menampilkan kesenian
selama 40 menit dalam panggung utama yang disiapkan. Penampilan pertama dimulai
dari Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul dengan menampilkan pertunjukan wayang
kulit yang diiringi dengan tarian dan
nyanyian. Tampil dalam acara Pagelaran Potensi desa merupakan kebanggan tersendiri.
Tidak mudah untuk dapat menampilkan potensi desanya. Karena acara tersebut
dilaksanakan melalui beberapa tahap yaitu sebelum yang diadakannya di JEC sudah
dilaksanakan seleksi di beberapa daerah. Pada performance ke 7 dibawakan oleh
Kabupaten Sleman, Desa Widomartani. Sleman masuk dalam rangking besar 4
Kabupaten di Yogyakarta dan salah satu dari 43 desa di Yogyakarta.
“Suatu kebanggan
tersendiri dari sekian banyak desa di setiap Kabupaten di Yogyakarta desa kami
salah satu dari 86 Desa di Kabupaten Sleman, dan salah satu dari 43 Desa Budaya
di Yogyakarta diberi kesempatan menampilkan kreatifitas Kami” ujar Bapak Sunoto
Dijo Suntoyo selaku pengurus dari Desa Sidoarjo.
Desa
Sidoarjo mementaskan kisah tentang Kethek Ogleng dalam urutan performance ke 7.
Cerita Kethek Ogleng yang dibawakan oleh Desa Sidoarjo Yogyakarta diiringi alat
musik angklung,tarian,nyanyian dan teater. Kethek Ogleng merupakan salah satu
bentuk kesenian rakyat yang masih berkembang dengan bentuk beragam.kisah.
“Kethek Ogleng diambil
dari nama binatang yaitu kera dalam bahasa jawa “Kethek”, sedangkan Ogleng
diambil dari gamelan yang berbunyi “gleng-gleng” engan Sekartaji atau Candra
Kirana. “Bapak Sunoto Dijo Suntoyo yang
saya wawancari pada hari Rabu 11 November.
Tari Kethek Ogleng memiliki alur cerita secara
utuh terdiri dari 6 tokoh yaitu Panji Asmoro bangunan,Sekartaji, Endang lara
tompe, Punakawan, Bantara Narada dan Wanareseta. Cerita Panji dalam versi Raden
Panji yang akan dijodohkan ini menceritakan seekor kera jelmaan Raden Gunung
Sari dalam cerita panji dalam upaya mencari Dewi Sekartaji yang menghilang dari
istana. Untuk mengelabuhi penduduk agar bebas keluar masuk desa dan hutan, maka
gunung sari menjelma menjadi seekor kera putih yang lincah dan lucu. Ketika di hutan mereka berdua dipertemukan
dalam kembali, Endang Rara Tompe merubah wujud bentuknya menjadi dewi
Sekartaji, begitu juga kethek mengubah dirinya menjadi Raden Panji
Asmorobangun. Dai setiap pementasan mengandung unsur amanat tersendiri. Dari
segi pementasan juri menilai kreatifitas,tema penampilan dan tradisi yang
diusung. Dari cerita tersebut kita dapat mengetahui watak para tokoh pemeran
cerita dan mengambil pelajaran sisi positif untuk dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Selain menampilkan performance, Desa Budaya juga
menampilkan berbagai macam produk kerajinan, kuliner yang ada disediakan setiap
stand. Penulis mencoba untuk meneliti salah satu stand kerajinan anyaman bambu
dan kuliner keripik yang ada di stand, dari Desa Dlingo Bantul. Profil desa
Dlingo giriloji (gemah ripah loh jinawi)
“Seluruh desa diberi
modal Rp 20.000.000,00 untuk membangun stand dan mengolah produknya, selain
dilombakan juga dijual kepada para pengunjung dan keuntungan untuk tiap desa,”
ungkap Ibu Sati
Dari
wawancara dari Ibu Sati didapatkan informasi berikut : Keberagaman potensi seni
dan budaya di Desa Budaya Dlingo merupakan pondasi diberikan status Desa Budaya
didesa tersebut diwariskan secara turun temurun. Potensi seni budaya desa
Dlingo masih dapat dijumpai keberadaannya saat ini. Potensi upacara adat dan
tradisi, bangunan adat, cagar alam budaya, kesenian kerajinan dan kuliner
tradisional. Di stand ini beliau menjual satu buah kuda lumping dijual dari
mulai Rp 10.000,00- Rp 100.000,00 dan berbagai kulinertradisional tersebar
diwilayah Desa Dlingo dengan hasil olahan pangan tradisional meliputi jamu
tradisional, dawet, pecel, tempel,kripik dll. Adapun kripik yang dijajakan mulai
harga Rp3500,00-Rp 5000,00. Kreatifitas itu merupakan hasil buatan sendiri.
Dari
pagelaran pementasan kuliner, atraksi dan kerajinan dinilai oleh 6 juri yang
berasal dari kalangan praktisi,birokrasi ,dan akademisi. Aspek utama yang
dinilai adalah bagaimana desa tersebut akan mengeksplorasi kekayaan yang
dimiliki. Dari segi kerajinan, aspek yang akan dinilai antara lain kreatifitas,
keunikan, bahan baku dan nilai jual. Seluruh penilaian atas kuliner,atraksi dan
kerajinan akan digabung untuk menentukan desa pemenang yang akan diumumkan pada
malam penutupan acara yang baru pertama kali digelar ini. Bukan hanya nilai
jual, tapi juga bagaimana desa itu bisa mengharmonikan ragam kekayaan desanya.
Dari
43 Desa Budaya akan diperoleh beberapa pemenang. Bukan hanya nomina yang
didapatkan cukup banyak tapi juga penghargaan yang diperoleh cukup mengesankan
untuk meharumkan nama desanya tersebut.
Penulis
melakukan pendekatan yang digunakan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan
wawancara. Tulisan ini sejalan dari instropeksi yang peneliti lakukan setelah
melakukan wawancara dari berbagai narasumber. Dari hasil survei pada acara
tersebut setiap pertunjukan yang ditampilkan dan acara yang dilaksanakan sangat
mengesankan karena setiap yang dibawakan memberikan konsep tersendiri dan ke
khassan daerahnya tersebut baik itu
dalam pertunjukan panggung tapi juga melombakan karya tiap-tiap desa
meliputi kuliner, atraksi dan kerajinan di stand stand yang disediakan. Tanpa
kerjasama dan kekompakan tidak akan berhasil.
Dengan
pagelaran potensi desa budaya maka masyarakat luas khususnya para generasi muda
dapat mengenal dan melestarikan budayanya. Disatu sisi anak bangsa dapat
memperoleh Pendidikan Budaya Karakter Bangsa (PBKB)” dan juga dapat mengundang daya
tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik maupun luar untuk berkunjung ke
desa budaya tersebut.
Posting By : Nurul Fitriyani











